Friday, 13 June 2014

Hentikan Kekerasan Antar Suporter!

Kabar Aremania | Kabar Arema | Berita Arema | Arema | Aremania | Salam Satu Jiwa - Rivalitas antar suporter sepakbola Indonesia sudah menjurus ke arah praktek yang tak sehat. Bara permusuhan yang ditabur sejak lama, tak lagi sebatas perang caki maki di media sosial. Konflik telah tereskalasi ke dalam perilaku destruktif yang tak kunjung terselesaikan.

Friksi antara beberapa elemen suporter sepakbola Indonesia memicu aksi vandalisme di jalanan, dengan merenggut korban warga sipil yang tak berdosa.

Jalan tol Porong-Gresik seolah sudah kenyang asam garam sebagai medan pertempuran para suporter. Setahun lalu di bulan Maret 2013 terjadi kericuhan di jalanan yang melibatkan dua kelompok suporter sepakbola terbesar di Jawa Timur.

Aksi sweeping yang dilakukan salah satu kelompok suporter mendapat respons balasan serta menghasilkan kekacauan sepanjang jalur bebas hambatan tersebut. Tak hanya aparat keamanan yang dibuat kalang kabut, para pengguna jalan pun merasakan demikian.

Beberapa kendaraan sipil yang menggunakan plat nomor kendaraan tertentu menjadi korban amuk oknum suporter. Beberapa warga sipil yang tak ada kaitannya dengan pertandingan sepakbola mengalami luka fisik akibat manuver salah sasaran.

Meski demikian tidak ada tindak lanjut dari para pemangku kebijakan(PSSI, aparat keamanan, kepala daerah, dll) untuk duduk bersama dan mencegah peristiwa berulang. Alhasil insiden serupa terjadi lagi bertepatan dengan pertandingan Arema vs Gresik United(5/6/2014).

Aksi sweeping yang dilakukan salah satu kelompok suporter di tol Gresik-Surabaya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan non suporter. Seorang warga sipil bernama Tumari Effendi, yang beralamatkan di Jl Thamrin Malang menghembuskan nafas terakhirnya usai mengalami pengroyokan oleh oknum suporter yang tak bertanggung jawab.

Selain almarhum Tumari Effendi, kejadian tak mengenakkan dialami oleh Zeno Denny Koko. Ia menjadi korban sweeping kendaraan plat N oleh sekelompok pemuda di Waru, Sidoarjo. Mobil Honda Jazz yang ia kendarai penyok dan pecah kacanya.

Selain Denny, korban aksi sweeping dialami oleh Tri Handayani(luka cukup lebar di belakang telinga kiri serta kehilangan tas berisi telepon seluler dan STNK), dan Titus Hariono. Titus mengalami luka serius di kepala setelah dilempar batu dan harus dirawat di RS Mitra Keluarga Waru.

Simpati atas peristiwa yang dialami oleh para korban sweeping datang dari berbagai pihak. Loeky Ardianto, sesepuh CORNEL(Community Relations Netter Liga Indonesia) yang juga suporter Persik mengucapkan bela sungkawa mendalam 'Innalillahi wa inna illahi raji'un, (tragedi ini) cukup sampai disini saja'.

Sam Harie Pandiono, 'duta' Singo Edan di berbagai penjuru dunia juga mengutarakan hal serupa. "R.I.P. Ebes Tumari Malangese to our brother who die due to vandalism. We pray for you and your family. There is no place for vandalism in this country" ujar Sam Harie di laman facebook-nya.

Sam Harie juga berpesan kepada Aremania agar tidak menyimpan dendam dan membalas kekerasan. "Balas lemparan batu dengan kreasi abadi. Kita buktikan kepada dunia Aremania mampu bersikap ksatria. Perang tidak harus dimenangkan dengan pertumpahan darah. Jadilah Aremania yang mampu membanggakan nama Indonesia si segala penjuru dunia", pungkasnya.

Sebelum insiden di Waru, tak terhitung harapan masyarakat agar pertikaian kelompok suporter dapat diakhiri. Aksi vandalisme dan perilaku destruktif kerap menimbulkan korban warga sipil yang tak ada sangkut pautnya dengan kelompok suporter yang berselisih.

Apalagi baik Surabaya-Malang(maupun Jakarta-Bandung) merupakan kota besar dan memiliki ikatan menguntungkan dalam berbagai dimensi kehidupan. Masyarakat dari berbagai wilayah tersebut kerap mendapat manfaat sosial dan ekonomi dari interaksi antar warganya.

Asa para masyarakat tersebut bukanlah tanpa sebab. Mereka tak ingin ada korban lagi imbas perilaku kedua kelompok yang menjalin rivalitas sengit. Setidaknya bagi beberapa kalangan, tensi permusuhan dapat diredam tanpa melibatkan warga sipil yang tak ingin terlibat dalam konflik berkepanjangan.

Hendaknya rivalitas yang tersulut dapat dikekang hanya pada pertandingan sepakbola yang melibatkan pihak yang berselisih, dalam koridor sportifitas dan fair play tentunya. Tak ada lagi provokasi verbal berlebihan di dunia maya, maupun aksi subversif tak terkendali di jalanan.

Para pihak berwenang diharapkan untuk menunjukkan kepeduliannya dalam menyelesaikan konflik antar kelompok suporter. Para pengurus PSSI, pemerintah daerah hingga institusi keamanan resmi dapat duduk satu meja merumuskan kebijakan baru demi meredam konflik suporter sebelum mengalami eskalasi ke tingkat yang genting.

Luka fisik (mungkin) dapat diobati meski dengan kompensasi biaya yang mahal. Namun luka psikis dan traumatik kerap tak dapat disembuhkan dalam waktu yang singkat. Keluh kesah ini seringkali kita dengar dari para korban di berbagai media massa.

Semoga tak ada kejadian yang terulang lagi. Pax melior est quam iustissimum bellum, Perdamaian lebih baik ketimbang perang yang beralasan.

Selamat jalan Bapak Tumari Effendi, doa kami menyertaimu.

0 comments:

Post a Comment